Selasa, 24 April 2012

  • oleh Even evendy,mudilfals,deidei,aman and friends bongo
bongo4ever


  1. Komunitas yang dibuat oleh sekumpulan pemuda harapan pemudi, masih berstatus sebagai pengamen dan mendapat julukan bongo 4ever. komunitas bongo berdiri di tengah-tengah bulan suci ramadhon pada tnggal 26 oktober 2006.



mengapa kami meberi nama komunitas dengan nama bongo 4 ever? karena kami lebih tertarik dengan alat musik bongo. mudah-mudahan nama tersebut membuat tertarik para pencinta musik.bongo kami artikan(bocah ngoumpol) dan berlanjut pada tahun 2008 dangan arti (boys n girls organitation) dan sekarang bergabung dangan organisasi oi orang indonesia.dan bongo kami ganti dengan arti(boys oi ngoro organitation)



komunitas bongo mempunyai , totalitas tanpa batas, kreasi tanpa henti, setia pada Ilahi. para anak-anak yang sering terbelit masalah kekurangan uang (tapi tidak semua). maka dari itu kami senang yang gratis. sedangkan minimalis terlahir karena kami orang yang tidak ribet dan tidak mau ribut....kami dulunya anak jalanan yang cinta musik ..salam dari kami bongo 4 ever..cintai musikmu cintai karyamu dan cintai musik indonesia...
sumur ngoro
Semasa masih hidup, simbah saya sering bercerita bagaimana rasa segar mandi di siang hari di sumur ini ketika beliau pulang dari menggembala sapi di hutan. Sumur ini terletak di hutan  sebelah barat desa kami. Di sebelah barat dusun Senedi. Disebut Sumur Ngoro  Oro Ciut. Entah apa maksud dari nama itu, tetapi kalau saya boleh menterjemahkan secara asal, bisa jadi berarti Padang (rumput) yang sempit.
Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya sumur ini dibuat atau siapa yang membuat, yang pasti sumur ini telah puluhan tahun mengabdi memenuhi hajat hidup orang banyak, terutama masyarakat Senedi dan sekitarnya. Baik itu untuk mencuci dan mandi, sanitasi, menyiram tanaman, dan yang terpenting untuk air minum.
Pada jaman simbah saya, keberadaan sumur di lingkungan tempat tinggal belumlah sebanyak apa yang telah ada sekarang. Tidak semua Rumah Tangga menggali sendiri sumur untuk sanitasi seperti masa kini. Entah bagaimana  hidup sehat dan higienis kala itu di jaga. Bagi saya sulit untuk membayangkan bagaimana keras usaha yang diperlukan untuk menempuh sumur Ngoro – oro ciut yang terletak di tengah hutan untuk mengambil air bersih beralatkanpikulan dan gembreng yang ditopang oleh pundak bertenaga manusia.
Memang pada kala itu, Sumur Noro oro ciut bukanlah satu satunya yang ada. Ada beberapa sumur lagi yang di buat oleh masyarakat di lingkungan tinggal. Diantaranya ada Sumur Gede, Sumur Njotos, Sumur Sendang, dan lain lain. Namun demikian ketika  musim kemarau yang panjang tiba dan kebanyakan sumur telah mengering, Sumur Ngoro Oro Ciut -lah salah satu  yang menjadi  pengharapan terakhir bagi kehidupan.
Pohon – pohon hutan yang masih banyak pada saat itu telah menjadi “lumbung” air dan membagi alir kan sedikit demi sedikit namun tidak terputus untuk kehidupan.
Kini, ketika pohon – pohon di sekitar hutan telah habis ditebang dan lahan hutan sudah dialih fungsikan sebagai ladang garapan, sumur ini masih tetap setia mengalirkan empati dan kemaslahatan untuk kehidupan, entah akan sampai kapan akan tetap mampu bertahan. Tidak ada yang tahu pasti masih berapa banyak debit air yang di simpan dan cadangkan oleh Ngoro oro ciut.
Apa yang bisa dilihat oleh mata saya, di penghujung musim kering yang panjang tahun ini/awal musim hujan, air masih tampak setengah penuh.
PS : Posting ini merupakan oleh – oleh ketika kemarin sore pergi menanam kacang tanah di Hutan Budha

http://jarwadi.wordpress.com/